Kurang lebih pukul 7 malam lah ya, gue, kang Patrick dan duo zakar, Indra serta Azka, telah sampai di sebuah villa yang menjadi tempat penyelenggaraan Muktamar The Panasdalam. Nama villanya adalah Tebing View. Itu loh, seperti yang udah gue tuliskan di sesi pertama tulisan ini bahwasanya villa itu kepunyaan Lidya Kandou dan suaminya yang kafir bernama Jamal Murtad.
Awal menuju kesana Bandung di dera hujan, hujan yang lebat. Petir bergemuruh, gelegarnya bersahutan. Angin juga kencang, badai topan pentil beliung. Karena badai hujan pentil beliung itulah ekspektasi gue terhadap kemeriahan acara kelak sedikit pudar.
Terlebih nanti akan datang SBR–geng motor bentukan Imam Besar Pidi Baiq–yang tentu saja datang dengan menggunakan motor. Gue udah terenyuh duluan membayangkan bagaimana tekad mereka yang datang dari seluruh penjuru dunia untuk memeriahkan Muktamar The Panasdalam mesti terhambat gara-gara hujan keparat.
Akan tetapi, ternyata gue salah. Read the rest of this entry »