Kurang lebih pukul 7 malam lah ya, gue, kang Patrick dan duo zakar, Indra serta Azka, telah sampai di sebuah villa yang menjadi tempat penyelenggaraan Muktamar The Panasdalam. Nama villanya adalah Tebing View. Itu loh, seperti yang udah gue tuliskan di sesi pertama tulisan ini bahwasanya villa itu kepunyaan Lidya Kandou dan suaminya yang kafir bernama Jamal Murtad.

Awal menuju kesana Bandung di dera hujan, hujan yang lebat. Petir bergemuruh, gelegarnya bersahutan. Angin juga kencang, badai topan pentil beliung. Karena badai hujan pentil beliung itulah ekspektasi gue terhadap kemeriahan acara kelak sedikit pudar.

Terlebih nanti akan datang SBR–geng motor bentukan Imam Besar Pidi Baiq–yang tentu saja datang dengan menggunakan motor. Gue udah terenyuh duluan membayangkan bagaimana tekad mereka yang datang dari seluruh penjuru dunia untuk memeriahkan Muktamar The Panasdalam mesti terhambat gara-gara hujan keparat.

Akan tetapi, ternyata gue salah. Read the rest of this entry »

Alih-alih mendengarkan Continuum-nya John Mayer, gue malah nyetel lagu-lagu Green Day. Gue kira, dalam posisi dimana kantuk jadi begitu intim, pilihan untuk mendengarkan John Mayer adalah tidak tepat.

Maka dari itu gue mendakwa Billie Joe dan kawan-kawan untuk membantu gue membunuh kantuk. Yeps, dengan headset yang terpampat di kuping dan volume yang juga udah di setel paling tinggi, gue berangkat ke Bandung.

Sabtu pagi itu, 20 Agustus 2011, Commuter Line lumayan sepi. Gue naek itu sampe ke Gambir dari sebuah stasiun kebanggaan warga Pulogebang dan sekitarnya yang bernama stasiun Cakung.

Dimana itu Pulogebang? Pulogebang itu, kalo lo liat dari peta Irak, ada di samping gang sebelah tukang jual ketoprak yang menuju Puloroti, sebuah pulo tempat gue lahir dan besar, tempat pertama dimana gue belajar merokok dan sedikit banyak mulai paham bahwa onani itu ternyata bercinta dengan diri sendiri.

Tapi, ah, tulisan ini bukan sesi curhat, jadi, kalau ada yang ingin tahu lebih lanjut dimana itu Pulogebang, silahkan langsung ke Irak, kebetulan disana juga lagi butuh presiden, siapa tahu anda beruntung.

Read the rest of this entry »

Waktu itu kira-kira Jogjakarta menunjukkan pukul delapan malam. Saya baru saja terbangun dari tidur. Kenapa saya tertidur? Oh tidak, kali ini bukanlah mata saya yang mengantuk, tetapi badan, ya, badan saya yang mengantuk. Badan yang mengantuk itu merupakan gejala dimana kamu sudah mulai merasakan betapa tubuhmu seperti diskotik berjalan: suka merinding dan gemetar, lantas pusing dan terasa letih.

Nah, saya yang tertidur di sebuah kamar dalam kontrakan Roland–manusia yang masuk kategori “psikiatrisasi kenikmatan menyimpang” dalam pembahasan Foucault tentang sejarah seksualitas–, selain itu ia juga salah seorang panitia konser Absurdrenalin Whyogyakarto. Saya tertidur disana cukup lama. Setelah bangun, saya lalu beranjak ke meja makan, yang dimana telah ada kang Patrick, Yoga, Roland dan, aha, kyai binaragawan, Rusli.

Kebiasaan saya yang tiap bangun langsung menuju meja makan adalah kebiasaan borjuis saya yang memang telah dipupuk oleh keluarga sejak dini. Saya sendiri, terus terang saja, agak kesulitan menyesuaikan kebiasaan seperti itu ketika bersemuka dengan habitus para proletar. Jadi, ya, maklum yah!

Sesampainya di meja makan yang, saya taksir jaraknya dengan kamar tidur saya tadi sekitar tiga kali lemparan sempak, saya langsung duduk. Duduklah saya dengan manis, tidak seperti Rusli yang lebih memilih posisi kayang atau Yoga yang malah tengkurep. Di meja itu telah tersedia seporsi nasi bungkus yang memang disediakan untuk saya.

Saya lucuti perlahan demi perlahan bungkus nasi itu sampai tampaklah ia menjadi sebuah bongkahan nasi yang telanjang berikut lauk-pauknya yang seksi bukan kepalang. Lalu saya mengulum ayamnya, menjilati kuahnya, meremas-remas nasi dan tempenya, saya lumat sepuasnya, dengan penuh gairah membara dan dengan dada yang berdegup tak karuan, saya juga turut menjambak-jambak semua sayurnya. Ah, kenyang.

Akan tetapi, pokok cerita ini bukan pada deskripsi bagaimana saya makan.

Read the rest of this entry »

Juli lalu di hari yang ke-23, band yang buat saya sangat fenomenal dan menyegarkan dalam blantika musik Indonesia yang keparat ini, The Panasdalam, konser di kota tempat saya menetap selama lima tahun ini. Konser ini berjudul “ABSURDRENALIN WHYOGYAKARTO”. Adapun apa makna filosofis dari judul tersebut kamu bisa gunakan matamu untuk membaca postingan di blog ini yang berjudul sama dengan judul konsernya.

Paska konser tersebut, saya yang kebetulan menjadi salah satu panitianya kebanjiran sms, telpon, bermilyar-milyar faksimili, bertriliunan telegram, dan berjuta bilyun surat kaleng. Saya kelayaban, tentu saja. Kebanyakan kiriman itu berisi permintaan, sedikit banyak permohonan, agar saya bersedia mengunggah video saat konser tersebut.

Baiklah, karena separuh jiwa saya dermawan dan separuh lagi i ngarso sung tulodo, maka, tanpa perlu berbasi-basa lagi, inilah video-videonya. Untuk kalian, para Pengidap yang, tentu saja tidak saya cintai.

 

 

Video publikasi yang dilakukan oleh gerombolan Taliban yang sedang berjihad di Bandung–>

 

 

“Oh Siti”, salah satu lagu pembuka ketika “almarhum Pidi Baiq mulai naik ke panggung–>

 

 

Yeah, salah satu lagu paling cool dari The Panasdalam–>

 

 

Inilah ‘punch’ dari sekian banyak lagu The Panasdalam yang fenomenal. LGBT harusnya berterimakasih pada The Panasdalam terhadap lagu ini. Siapapun anda yang menonton langsung konser tersebut pada lagu ini, susah untuk tidak menganggap atau ikut merasakan energi Pidi Baiq yang begitu besar saat menyanyikannya–>

 

 

Nanti postingan ini berlanjut dengan video-video The Panasdalam lain waktu konser ABSURDRENALIN WHYOGYAKARTO. Meski secara medis tidak terbukti, setidaknya, saya percaya (video) ini baik untuk kesehatan. Mari bersulang!

Tepat seminggu yang lalu aku ketemu ma orang asing bernama John Titor, seorang tentara amerika dari tahun 2036. John diperintahkan balik ke tahun 1970an untuk mengambil komputer kuno milik kakeknya (IBM 5100). Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.